[Jajan] Jelajah Kuliner Padang, Bedanya Nasi Padang di Habitat Aslinya


Cita-cita saat SMA ingin berkunjung ke kota Padang untuk wisata kuliner akhirnya terwujud jugak. Nggak nyangka oi, ternyata dapat suami keturunan Padang. Jadi, banyak keluarga yang tinggal di Padang dan Bukittinggi.

Setelah merengek-rengek nikah selama 4 tahun, akkkhirnya aku dibawa juga ke Padang sama Pak Baba. Awal tahun 2017 lalu kami putuskan mudik ke Padang nengokin Nenek. Yey! Rasanya kayak mau berangkat umroh, wkwkw, kayak yang pernah umroh aja lauw~

Well, karena Padang identik dengan surga kuliner, mari kita jalan-jalan dan jajan-jajan. Beruntung, saat itu aku juga mengunjungi Bukittinggi, kota kelahiran ayah mertuaku. Jadi, kita akan makan-makan di dua kota Sumatra Barat ini. Namun, biar nggak kepanjangan, aku bagi dalam dua postingan, yah!

Btw, sebelumnya maaf ya fotonya nggak lengkap dan gelap-gelap, nggak bawa kamera soalnya, hiks.

Selamat datang di PADANG~

RM Lamun Ombak
Begitu sampai di Padang, kami dijemput oleh saudara dan langsung dijamu makan di rumah makan padang yang kalau di Padang namanya bukan restoran padang, LOL. Wah parah sih, semua jenis makanan terhampar bebas di meja. Sebuah tantangan yang berat karena saat itu seharusnya hari terakhirku diet GM, hahaha, mana tahan kan? Jadi, aku nggak makan pakai nasi, cuma lauk pauk, dan sayur. Dendeng cabe merahnya wadaww~~ Pak Baba kayaknya di sini menyikat semuanya termasuk limpa-limpaan. Enak? Ya enaklaaah~

Btw, maaf banget foto-foto di RM ini kucari-cari nggak nemu, hiks.

Baca juga: Pengalaman Merana Diet GM 7 Hari

Lanjut yes....

Pulut Durian Jalan Tarandam
Di jalan ini banyak tenda-tenda jual pulut durian atau ketan durian. Kita bisa pilih mau ketan putih atau hitam. Satu porsi ketan dihargai Rp 10ribu. Sedangkan durian bisa makan sepuasnya mau berapa biji asal bayar, hehehe. Malem-malem makan duren tinggal mimpi indah aja habis iniii~





Rakik Maco
Ini salah satu favoritku selain keripik singkong balado yang pedes-pedes lengket klenyit-klenyit, LOL. Rakik itu semacam rempeyek kalok di Jawa, maco itu ikan teri. Lucunya bentuk snack ini cantik dan artistik, satu keping rakik hanya bertahtakan satu ekor maco. Rasanya guriiiih dan renyah banget. Nyam!



Martabak Kubang
Ini di Jogja juga ada sih, tapi yah nyobain jugak di habitat aslinya. Rasanya sama enaknya, apalagi saat itu aku makan satu porsi sendirian, selamat tinggal diet GM! Khasnya martabak ini dimakan pakai kuah dengan rasa rempah manis gurih.



Teh Talua
Penasaran aku pengin nyoba ini. Pas aku pesan, diketawain donk sama Om dan Tanteku. Katanya menu teh telur ini biasanya dinikmati oleh kakek-kakek nenek-nenek buat sarapan, LOL. Gapapa deh, aku tetep pesan. Telurnya beneran telur mentah dicemplungin di gelas teh. Biar nggak begitu amis, disediakan jeruk nipis. Menu ini disajiinnya panas-panas. Rasanya kental dan krimiiii bangettt. Enak sih menurutku, ;).



RM Pauh Piaman
Another resto nasi padang yang lebih dikenal dengan kedai nasi. Di resto dengan aura glamor ini yang paling femes adalah gulai ikan. Bahkan, tagline-nya aja "the most excellent taste of gulai ikan". Wagelaseh broow~~ Emang beneran excellent sih gulai ikannya, rasanya segerrr, gurih dan legit. Aku juga suka ayam goreng panasnya, garing, enakk. Pas makan di sini, udah beneran nggak peduli diet, makan nasiiii kita, hahaha! Sayangnya nggak sempet foto, udah terlanjur kalap, maafkan. Boleh disearching sendiri yah fotonya banyakk~

Jadi, gimana bedanya makan nasi padang di Padang? Kabar baiknya untuk kita yang bukan orang Padang, menurutku ya sama-sama enak, sih. Asalkan kita jajan nasi padangnya juga di warung padang beneran ya, hehe. Maksudku warung padang beneran tuh ya kayak Duta Minang, Sederhana, atau yang lainnya. Menurutku, dua resto itu udah bener, LOL.

Masakan Padang di kotanya sendiri menurutku enak yah, yang aku kurang cocok adalah nasinya. Semua nasi yang kumakan baik di resto maupun di rumah, semuanya beda banget sama nasi di Jawa. Nasi di Padang itu kayak lebih keras, tapi nggak mawur juga, tetep padet, kayak ada campuran nonberasnya gitu lo, wkwk.

Selama semingguan menginap di Padang dan Bukittinggi, puas banget makan masakan bersantan berminyak berlemak. Hampir semua makanan yang kumakan diolahnya begitu. NICE! Haha! Kata mama mertuaku, karena itu nggak heran kebanyakan keluarga kami ada asam urat, hiks.

Yang ini jamuan di rumah tanteku, alhamdulillah ada sayur sop ;D. Yang lainnya seputar balado dan kalio dan sambal-sambal~ Aku sukaaaaa~


Nah, ini baru yang di Padang, yah! Nanti kita lanjut jelajah kuliner Bukittinggi idolaku, di postingan selanjutnya. ^^

Love,
@diladol






CONVERSATION

1 komentar:

  1. Nasi Padang di tempatnya langsung memang rasanya lebih pedas dan santannya lebih pekat, plus bumbu yang otentik banget ya. Pas pulang kampung dulu pernah makan di Lamun Ombak. Selalu suka ya lihat makanan terhampar, hahah... Paun Piaman ada di daerah Pariaman juga ya? Kalau pulkam lagi mesti coba nih. Ketan nasi pulut sih cukup mama saya aja yang bikin karena memang punya pohon duren, haha...

    ReplyDelete

Back
to top